Jangan Boros dan Jangan Kikir

15 02 2009

Tidaklah benar orang Islam dalam menjalani hidup ini tanpa harta, akan tetapi jangan pula menjadikan kemiskinan itu sebagai bagian dari ciri orang Islam. Jadilah orang Islam yang kaya tapi ingat kekayaan jangan sampai membuat kita lalai akan kewajiban kita pada sang pencipta, Allah swt mengingatkan kita dengan firmannya… Tidaklah benar orang Islam dalam menjalani hidup ini tanpa harta, akan tetapi jangan pula menjadikan kemiskinan itu sebagai bagian dari ciri orang Islam. Jadilah orang Islam yang kaya tapi ingat kekayaan jangan sampai membuat kita lalai akan kewajiban kita pada sang pencipta, Allah swt mengingatkan kita dengan firmannya…

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah”. Dari ayat ini jelaslah bahwa orang Islam itu harus kaya, tapi ingat kekayaan itu adalah nikmat yang harus di syukuri, dan amanat yang wajib dijaga. Harta yang kita miliki hanyalah sebagai titipan yang sebenarnya hanyalah milik Allah swt yang dipercayakan kepada kita untuk bisa mengembangkannya dan membelanjakannya dengan baik. Jika harta yang kita miliki adalah milik Allah swt yang di percayakan kepada kita, maka wajib bagi kita untuk selalu memperhatikan petunjuk-petunjuk si pemilik harta, melaksanakan apa yang di inginkan si pemilik, apa yang membuat si pemilik bahagia dan meninggalkan perbuatan yang membuat si pemilik marah. Seperti halnya tidak diperbolehkannya seorang karyawan di suatu perusahaan manapun melanggar perintah direkturnya ataupun menggunakan milik perusahaan sekehendak dirinya, apalagi kita sebagai karyawannya sang penggenggam alam ini. Ada beberapa aturan yang telah Allah swt tetapkan terhadap harta milik orang Islam, yang berhubungan dengan cara mendapatkan dan mengembangkan serta aturan-aturan yang berhubungan dengan cara menafkahkannya. Marilah kita bahas disini hal yang berhubungan dengan aturan-aturan menafkahkan harta kita. Terkadang ada orang Islam yang memperoleh hartanya dengan cara yang halal sesuai dengan aturan syar’i, akan tetapi setelah ia memilikinya ia lupa dan menghambur-hamburkan kekayaannya. Ia menjadi kikir, bakhil pada harta itu untuk dibelanjakan sesuai dengan apa yang membuat Allah swt ridho. Oleh karena itu, musibah yang menimpa umat manusia bila di tinjau dari kepemilikan hartanya ada dua macam: 1. Manusia yang suka menghambur-hamburkan hartanya secara boros, tidak peduli kemana dan bagaiman hartanya di belanjakan, yang tidak ada batasan apapun dan tidak mengacu pada aturan-aturan Tuhan. 2. Manusia yang kikir akan hartanya yang benar-benar tidak mau tahu hak-hak Allah dan juga tidak mau tahu bahwa pada hartanya itu ada hak orang lain, sampai akhirnya ia menjadi bakhil dan kikir dari segala bentuk kewajiban atas hartanya. Seyogyanya harta yang kita miliki kita belanjakan sesuai dengan aturan syar’i, tidak berlebih-lebihan dan juga tidak kikir. Inilah yang di sebut dengan kesederhanaan dalam Islam. Al-Quran berpesan pada kita dalam surat Al-Isra ayat 26-29, yang artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Dalam ayat lain dikatakan: “?????? ??? ?????? ?? ?????? ??? ?????? ???? ??? ??? ??????”. Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Al-Furqon: 67). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan. Dan syaitan itu adalah sangat ingkar terhadap Tuhannya. Dan jika kamu berpaling dari mereka (tidak sanggup memberikan kepada mereka hak-haknya) untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (menghambur-hamburkan harta) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesalâ€?. Begitulah sebagian aturan, bagaimana cara kita membelanjakan harta kita menurut al-Quran. Islam mengajak kita untuk berinfak, karena itu termasuk salah satu dari sifatnya orang yang bertakwa. Tapi ajakan berinfak disini bukan berarti dari semua harta yang kita miliki, tetapi hanya sebagian dari yang kita miliki. Allah swt ketika mewajibkan manusia untuk berzakat, yang diwajibkan itu hanya sebagian hartanya, ada yang seperempat dari sepersepuluh, ada yang sepersepuluh saja, bahkan ada yang setengahnya dari sepersepuluh. Allah swt berfirman: “???????? ???? ?????? ?? ?????”. Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) apa yang mereka infakkan?, katakanlah: yang lebih dari keperluan.â€? Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: “Tidak wajib zakat kecuali atas orang-orang kayaâ€?. Islam tidak menuntut kita untuk menginfakkan harta yang kita butuhkan, maka apabila kita menginfakkan sebagian harta yang kita butuhkan, itu bukanlah suatu kewajiban akan tetapi suatu keutamaan, seperti keutamaannya orang-orang yang di sebutkan dalam al-quran: 1. Kaum Anshor “??????? ??? ?????? ??? ??? ??? ?????. ??? ??? ??? ???? ?????? ?? ????????”. Artinya: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan kepada apa yang mereka berikan. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung. 2. Al- Abror “??????? ?????? ??? ???? ??????? ??????? ???????”. artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang yang ditawanâ€?. Mereka itu sangat menyukai apa yang mereka dapat infakkan, baik makanan maupun harta yang lain, walaupun mereka membutuhkannya, dan mereka infakkan harta itu karena Allah swt. Yang perlu kita ketahui, sebagai seorang muslim kita wajib menolong saudara kita yang membutuhkan dengan tidak berlebih-lebihan dalam membantu ataupun tidak terlalu kikir, bahkan sampai kikir pada dirinya sendiri. Ada sebagian manusia yang kaya, tapi mereka kikir pada keluarganya bahkan pada dirinya sendiri, harta ada digenggamannya, tapi dia sendiri menguncinya rapat-rapat. Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Ibnu Amru: “ Suatu ketika Nabi Muhammad saw kedatangan tamu yang tingkah lakunya sangat membosankan, bertanyalah Nabi kepadanya: “Apakah kamu punya harta? Dia menjawab: ya. Harta seperti apa yang kamu miliki? Dia menjawab: Dari setiap harta yang Allah swt karuniakan padaku. Kemudian Nabi bersabda: “Maka sesungguhnya Allah swt sangat ingin melihat perubahan dirimu dengan nikmat yang telah Allah swt berikan padamuâ€?. Janganlah kita biarkan diri kita lapar dengan kikir pada diri kita sendiri, kikir pada keluarga kita, kikir pada saudara-saudara kita, sedangkan harta ada pada genggaman kita, belanjakanlah harta kita dan infakkanlah harta kita dengan sebaik-baiknya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Tsauban ra. Nabi bersabda: “Keutamaan harta yang dimiliki oleh seseorang adalah harta yang dibelanjakan untuk keluarganya, untuk kendaraannya dijalan Allah dan dibelanjakan untuk saudara-saudaranya yang berjuang di jalan Allahâ€?. Dan di hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda pada Sa`ad bin Abi Waqas: “Dan sesungguhnya apa-apa yang kamu belanjakan karena Allah itu tidak lain akan dibalas oleh Allah sampai apa yang kamu belanjakan untuk istrimuâ€?. Sebagai seorang muslim, yang pertama kali wajib kita nafkahi adalah diri kita sendiri, kemudian keluarga kita, kemudian orang-orang sekitar kita, baik itu kerabat atau pun tetangga-tetangga kita. Sebab mereka itu mempunyai hak atas harta kita. Diriwayatkan oleh Imam Tabrani dari Anas bin Malik r.a, Nabi saw bersabda: â€?Tidak termasuk orang yang beriman, yang merasakan kekenyangan sementara membiarkan tetangganya kelaparan padahal dia tahuâ€?. Bukan termasuk ajaran Islam, orang yang mengenyangkan perutnya sendiri sedangkan disekitarnya banyak yang kelaparan. Islam mengajarkan pada kita untuk membelanjakan harta kita disamping untuk diri kita sendiri juga orang tua kita, kemudian kerabat-kerabat kita, Allah swt berfirman: “??????? ???? ??????. ?? ?? ?????? ?? ???? ????????? ????????? ???????? ???????? ???? ??????”. Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang mereka nafkahkan, jawablah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalananâ€?. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dari Salman bin Amir, Nabi saw bersabda: â€?Shodaqoh untuk orang miskin hanya mendapat pahala shodaqoh, sedangkan shodaqoh untuk kerabat itu disamping mendapat pahala shodaqoh juga pahala silaturahmiâ€?. Dan yang paling lebih utama pahalanya lagi adalah shodaqoh yang di berikan kepada kerabat yang sedang berselisih dengan dirinya, dengan syarat ia pada posisi tersebut tidak bershodaqoh untuk mendapatkan simpati, tetapi bershodaqoh karena Allah swt dan karena hak kerabat yang berselisih atas hartanya. Marilah kita sama-sama menjadi muslim yang suka berinfak, berinfak dalam kebaikan yang tidak berlebih-lebihan. Suatu ketika disalah satu peperangan, datanglah sahabat Umar ra dengan membawa sebagian hartan pada Rasulullah saw, Umar ra menganggap bahwa tidak ada seorangpun yang menginfakkan hartanya seperti dirinya. Saat itu juga datanglah Abu Bakar ra dengan seluruh harta yang ia miliki, maka bertanyalah Rasulullah saw pada Abu Bakar ra: “Hai Abu Bakar, Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?â€?, Abu Bakar menjawab: “Tidak ada sisa harta untuk keluargaku yang aku tinggalkan kecuali Allah dan Rasul-Nyaâ€?. Hal seperti ini diperbolehkan bagi orang yang sangat kuat keyakinannya kepada Allah swt, kuat dalam berpasrah diri kepada Allah swt dan tahu kadar kekuatan tawakkal keluarganya serta kesabaran mereka pada Allah swt. Adapun orang-orang yang tidak sabar dan tidak ada keyakinan, tawakal dan keimanan yang tinggi, maka tidak diperbolehkan menginfakkan seluruh hartanya. Abu Bakar ra tahu kalau dirinya dan keluarganya sanggup dan bisa untuk sabar, maka diperbolehkan padanya untuk menginfakkan seluruh hartanya karena Allah swt. Orang- orang seperti ini berkeyakinan bahwa Allah swt tidak akan menyia-nyiakan mereka, tidak akan berkurang harta karena di shodaqohkan ataupun shodaqoh tidak akan pernah mengurangi harta yang dimilikinya, karena itulah Rasulullah saw pernah bersumpah bahwa harta tidak akan berkurang karena shodaqoh tapi malah akan bertambah. Allah swt berfirman: “? ?? ?????? ?? ??? ??? ????? ??? ??? ????????”. Artinya: â€?Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah swt akan menggantinya dan Dialah sebaik-baiknya pemberi rezekiâ€?. Sekali lagi apabila kita berinfak, janganlah berlebih-lebihan maupun kikir. Janganlah kikir pada diri kita sendiri, pada keluarga kita, pada tetangga kita dan pada orang yang membutuhkannya. Tapi sebelum itu semua, janganlah kita kikir atau bakhil pada hak Allah swt yaitu membayar zakat. Saudara-saudaraku, harta yang kita miliki adalah nikmat yang wajib kita jaga. Saat ini sungguh banyak yayasan-yayasan Islam di seluruh dunia yang membutuhkan kucuran dana, banyak sekolah-sekolah Islam yang membutuhkan biaya pembangunan, banyak masjid-masjid yang membutuhkan renovasi, pasien-pasien yang membutuhkan biaya pengobatan, pengungsi-pengungsi yang butuh rumah untuk dinaungi, anak-anak yatim yang membutuhkan orang-orang yang menanggungnya, orang-orang yang kelaparan, tapi disana tidak ada orang yang mau memberi makan. Apakah karena umat Islam ini semuanya miskin, sehingga tidak sanggup untuk membantu mereka?. Tidak, banyak umat Islam yang kaya, tapi sayang kekayaan mereka banyak yang dihabiskan untuk berfoya-foya dan bermegah-megahan. Sungguh banyak manusia yang membelanjakan hartanya beribu-ribu dollar, beratus-beratus ribu dollar tapi tidak untuk membantu mereka. Malah untuk berfoya-foya dan bermegah-megahan, apabila diminta keikhlasan mereka untuk membantu yang membutuhkan, mereka berpangku tangan, mereka kikir, na`uzubillah. Maka tidaklah heran kalau sampai Al-Qur`an mengingatkan sebagian manusia yang mempunyai sifat yang demikian. Dalam surat An-nisa ayat 36-38: Artinya: “Sesunggguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka, dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. Dan juga orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah seburuk-buruk temanâ€?. Lihatlah betapa mereka itu bakhil, bahkan menyuruh dan mengajak orang lain untuk bakhil. Betapa mereka itu riya’ dalam menafkahkan harta mereka, riya’ dalam pesta pora yang tentunya banyak orang yang akan membicarakannya, riya’ didalam walimah-walimah mereka, dengan memotong beberapa ekor kambing dan sapi yang mereka makan hanya sepuluh persennya, atau malah tidak sampai sepuluh persennya, kemudian mereka buang sisa-sisa makanan mereka, padahal di sekeliling mereka banyak saudara-saudaranya yang kelaparan, mengharapkan satu suap makanan yang tidak mereka dapatkan. Berlebih-lebihan menjadi ajang kebanggaan mereka, berlebih-lebihan pada kemungkaran, bahkan pada sesuatu yang tidak bermanfaat, bakhil akan kewajiban atas harta yang mereka miliki menjadi kebiasaan. Ingatlah, kita secara tidak sadar sering berlebih-lebihan dalam menggunakan air, listrik, telepon genggam, bahkan berlebih-lebihan pada segala hal yang tidak memberi manfaat untuk kita, sepertinya semua harta yang kita miliki ini harta kita. Bukan!, sekali lagi bukan harta kita, tapi harta Allah swt yang diamanatkan pada kita untuk kita jaga dan menafkahkannya dengan sebaik-baiknya. Memang benar sebagian kita sangat menjaga harta yang di amanahkan oleh Allah swt, akan tetapi apabila kita dipercaya oleh pemerintah untuk bekerja di instansi pemerintahan ataupun di kantor-kantor swasta untuk menjaga aset pemerintah, kita sering lalai, berbangga diri dan berlebih-lebihan terhadap kekuasaan dan harta yang di amanahkan pemerintah kepada kita. Yang demikian ini bukanlah termasuk hamba Alslah swt, hamba Allah swt adalah orang-orang yang apabila menafkahkan harta miliknya ataupun harta orang lain yang di percayakan kepadanya tidak berlebih-lebihan dan juga tidak kikir dan bakhil, inilah yang di maksud kesederhanaan dalam Islam. Semoga Allah swt menjadikan kita termasuk dalam golongan mereka, amin. Ustadz Roayyani Anwar


Aksi

Information

2 responses

15 02 2009
zackline

salam
sepakat bro!!! ane juga nulis hal yang sama judulnya tersenyum dengan kemiskinan, oke

wassalam

15 02 2009
rizki pratama

Salam.
Sama-sama yang penting selama menuju kebaikan semuanya akan menjadi lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: