Berlaku Dua Hukum Dalam Mencintai

30 01 2010

Mana ada cinta kalau tak ada pengorbanan. Segala bentuk cinta pasti ada pengorbanan untuk orang atau sesuatu yang dicintainya. Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Cinta adalah penderitaan, tetapi penderitaan yang mendatangkan kebahagiaan.” Seseorang tidak akan bangun malam untuk meratakan dahinya (shalat) kalau bukan karena cinta dan para ibu tidak akan sudi melahirkan anaknya kalau bukan karena cinta. Shalat Tahajjud dan melahirkan adalah penderitaan, tetapi penderitaan yang mendatangkan kebahagiaan.

Seorang kekasih tidak akan berlamalama membenamkan dirinya untuk membuat sajak-sajak cinta yang akan dipersembahkan kepada tambatan hatinya, manakala tidak dirundung cinta. Membuat puisi-puisi indah adalah penderitaan, tetapi penderitaan yang mendatangkan kebahagiaan.

Sustu hari, tatkala matahari di Madinah berada tepat di atas kepala, Rasulullah SAW mengadakan perjalanan. Selain ditimpa kepanasan, Rasulullah SAW juga sangat kehausan, sementara persediaan air telah habis. Terlihatlah dari kejauhan sosok orang yang berjalan tertatih-tatih. Setelah jarak semakin dekat, mereka tahu bahwa orang itu adalah Abu Dzar al-Ghiffari yang juga sedang mengadakan perjalanan bersama Nabi dan para sahabatnya, namun ia memisahkan diri untuk mencari air.

Setelah mendekat kepada Rasulullah, Abu Dzar berkata dengan nafas yang masih tersengal-sengal, “Ya Rasulullah, di tengah-tengah padang pasir yang panas ini, saya berhasil menemukan air jernih. Saya haus, dan saya juga tahu kalau orang yang paling saya cintai kehausan pula. Maka dari itu, saya berjanji kepada diri sendiri untuk tidak meminum air ini sebelum Rasulullah meminumnya terlebih dahulu.”

Itulah cinta. Cinta memang identik dengan pengoranan. Hal demikian banyak dibuktikan oleh Nabi Muhammad. Salah satunya, kala beliau ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy, asalkan bersedia berhenti berdakwah, maka dengan kobaran api cinta kepada Allah SWT, Rasulullah menjawab, “Demi Allah, seandainya matahari mereka letakkan ditangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak akan meninggalkannya, sampai agama Allah menang atau aku yang binasa…!”

Demikian perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Begitu igih beliau memperjuangkannya, hingga tidak gentar menghadapi terjangan badai. Tawran harta kekayaan yang melimpah, kedudukan yang tinggi, dan wanita yang cantik ditolaknya dengan mentah-mentah, sebab kecintaan beliau kepada umatnya. Bahkan, ketika Allah akan mencabut nyawanya, beliau selalu berkata, “Ummati…Ummati…!”

Cinta, selain butuh pengorbanan juga tidak boleh dibagi. Demikian hokum mencintai. Kira-kira, apa reaksi Anda manakala kekasih Anda mendua dengan orang lain? Tentu, Anda marah, bukan?

Ada orang yang menyatakan bahwa cinta dapat dibagi. Misalnya, seorang yang memiliki istri dua, maka dia harus mencintai dua istrinya, ia juga harus membagi cintanya 50 persen dan 50 persen. Pandangan seperti ini tidak rasional. Islam tidak mengatur pembagian cinta seperti itu, tetai setiap cinta memiliki konsekuensi logis yang harus dimiliki dari pencintanya. Dengan bahasa yang mudah, apabila ia mencintai sesuatu, sebetulnya sesuatu itulah yang seharusnya bias mengantarkan untuk mencintai Allah. Contoh yang lebih konkret, apabila seorang ayah mencintai anak-anaknya, maka cinta kepada anak-anaknya tersebut harus bias mengantarkannya untuk mencintai Allah. Begitu juga cinta kita kepada istri, tetangga, dan sebagainya, adalah dalam upaya untuk mendapatkan cinta Allah.

Tidak benar apabila kita mencintai dan mengidolakan Umar bin Khathab berarti kita tidak mencintai Allah. Kita mencintai Umar, secara langsung, tentu telah mencintai Allah. Karena, mustahil kita mencintai Allah, tetapi membenci Umar bin Khathab, sedangkan beliau orang yang sangat mencintai Allah.

Merupakan kesalahan jika kita mencintai seseorang, misalnya anak dan istri, tetapi kecintaan itu dapat melemahkan kecintaan kita kepada Allah. Kecintaan kita tidak menambah pada ketaatan. Tetapi sebaliknya, cinta itu malah semakin membuat kita melupakanNya, atau malah kita menyekutukan Allah.

Sewaktu masih kecil, Husain, cucu tercinta Rasulullah, bertanya kepada ayahnya, “Apakah engkau mencintai Allah?”

Ali ra menawab, “Ya.”

Lalu, Husain bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai kakek dari ibu?”

Ali ra kembali menjawab, “Ya.”

Husain bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai ibuku?”

Lagi-lagi Ali menjawab, “Ya.”

Husain kembali bertanya, “Apakah engkau mencintaiku?”

Ali menjawab, “Ya.”

Terakhir, Husain yang masih polo situ bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?”

Ali menjelaskan, “Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku kepada kakek dari ibumu (Nabi SAW), ibumu (Fatimah ra), dan kepada kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah. Sebab, semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah SWT.” Setelah mendengar jawaban dari ayahnya, Husain tersenyum mengerti.

Dari keterangan singkat diatas, kita dapat ambil suatu kesimpulan bahwa ada dua hokum dalam mencintai : Cinta harus disertai pengorbanan yang tulus dan Cinta tidak boleh dibagi.


Aksi

Information

20 responses

15 02 2010
trinil

Merinding Ki, q bacanya…
Alna mencintai Allah SWT sebenar2 cinta memang susah.
Kadang kala kita tak bisa membesakan cinta Allah dengan yang lain.

17 02 2010
rizki pratama

Dibilang susah juga tidak dibilang gampang juga tidak….. semuanya berasal dari hati bro……

8 06 2010
trinil

kadang hati bentrok dengan kesombongan n keserakahan kita, bahkan kenyataan dunia kita jadikan alasan ntuk tak melihat n mendengar hati ini.

9 06 2010
rizki pratama

hahahaha…….. Itu dia masalahnya…!!!

29 05 2010
April

wow wow… keren artikelnya. Boleh copy gak?

1 06 2010
rizki pratama

monggo…. silahkan.!!!

18 08 2010
muhamad yusuf

Ajib makasih Kang Luqman saya copy artikel-artikelnya

19 08 2010
rizki pratama

silahkan kang yusuf…

19 03 2011
Jacquelin

salam perkenalan buat Rizki, sy Jacquelin Linus dari Malaysia . seperti yg anda lihat diatas nama sy menunjukkan sy seorg non-muslim . tp dri artikel-artikel kmu membuatkan sy faham apa itu islam . sy suka artikel-artikel kmu .. boleh kah kalau saya copy antara artikel2 kamu? Teruskan menulis dan saya akan sentiasa melawat bolg anda .

15 04 2011
rizki pratama

salam kenal juga… dan terima kasih.

15 04 2011
rizki pratama

doa, cinta dan damai selalu…

31 03 2011
annisa zahra

alhamdulillahirobbilalamin…

30 06 2011
assandi

senang baca artikelnya….lebih senang hati yg membaca…mata,pikiran&hati….trimakasih kang

25 07 2011
rizki pratama

sami…sami…

13 07 2011
Kumar

terenyuh, nyuwun sewu izin copy artikelnya

25 07 2011
rizki pratama

monggo silahkan

2 10 2011
rochettlongue

ijin share di facebook ya mas…:)

8 11 2011
rizki pratama

Selahkan…

6 02 2013
mbah dib

ijin kopass…….

11 05 2013
rizki pratama

monggo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: