Di Tengah Lumpur Jakarta (Jack & Sufi)

30 01 2010

Gemerlap lampu dan iringan musik berdebam menambah suasana diskotek yang sarat pengunjung. Tampak Jack, panggilan akrab Jaka, sedang berbincang asik dengan beberapa perempuan diskotek. Dengan jaket jean belelnya, ia tampak mengepulkan asap rokk. Beberapa saat kemudian Parjo masuk, diiringi susi, yang sehari-hari sebagai waittres di sana.

“Jack, jama’ah kita bertambah banyak. Saya bingung nih,” Ujar Parjo.

Jack hanya diam, sambil mengepulkan asap rokoknya. Rupanya dipojok tempat Jack mangkal itu sering dikunjungi beberapa perempuan nakal ditempat hiburan itu, namun tak jarang juga politisi yang sedang stress, bahkan juga pengusaha yang sedang muak dengan remang-remang Jakarta, saking seringnya.

Tiba-tiba seorang perempuan cantik menghampiri Jack, dan langsung memeluknya sambil menangis. Parjo terbelalak. Susi tersenyum simpul melihat ulah perempuan itu.

“Mas Jack, saya sudah janji. Ini malam terakhir saya. Saya tidak tahu apakah malam-malam berikutnya saya masih ada disini atau tidak. Saya nggak tahu Mas…”

“Semua malam, sesungguhnya malam terakhir Linda…,” kata Jack.

“Kok?” kata Linda sambil melepaskan pelukannya, dan bersandar seenaknya di punggung jack.

“Ya, kita juga tak tahu apa yang terjadi besok hari. Saya tahu, rasanya malam ini ada cinta sejati merasuk ke dadamu…?”

“Saya tidak percaya sama cinta. Semua cinta itu hanya gombal amoh, memuakkan…”

Jack tertawa meledak…

“Ya. Karena Allah Maha cemburu atas cintaNya kepadamu, lalu kamu terlantarkan cintaNya, maka jadilah kamu seperti hari-hari kemarin yang kelabu, bahkan hitam itu…”

“Jadi,… Allah mencintai saya yang kotor dan hina ini? Tuhan masih mau memaafkan dosa saya yang bergolak Lumpur ini?”

“Kalau Allah mengampuni dosamu, memeluk jiwamu, maka kamu pasti kembali dan bertobat. Jadi tobat itu cinta Lin, tobat juga rahmat, sekaligus pelukan Ilahi yang begitu agung.”

Linda lelu mengeratkan tubuhnya pada lengan Jack. Musik bergema, asap mengepul. Sulit dibedakan apakah tu asap api neraka atau kenikmatan dan kepuasan.

Jack memandang Linda dalam-dalam. Pandangan yang menyejukkan. Karena ketika memandang gadis itu, Jack terus menggetarkan dzikrullah dalam dadanya.

“Allah bersamamu, Lin….. Kamu harus yakin dengan masa depanmu. Masa depanmu adalah Allah itu sendiri. Allah mentakdirkanmu terjerumus di tempat hiburan ini, jangan kamu sesali. Karena ini takdir Ilahi. Kamu harus belajar berbaik sangka kepada Allah, dengan cara kamu memahami bahwa terkadang Allah menakdirkan hambanya berbuat dosa, dalam rangka untuk si hamba itu untuk lebih mampu dekat kepadaNya. Nabi Adam berdosa dengan pelanggaranNya, tetapi beliau menyadari bahwa itu takdir Allah agar kelak bias melhirkan keturunan di dunia, termasuk membangun peradaban yang memuncak pada salah satu keturunannya, Sayyidina Muhammad SAW. Tanpa Adam AS, berbuat salah, nabi tidak pernah lahir di dunia. Nah, itu untuk hal yang berlalu. Tidak boleh untuk hal yang akan dating, misalnya, kamu berpikir, aku ingin bermaksiat…ah, biar dekat dengan Allah. Itu dilarang, karena kata-kata itu muncul dari hawa nafsu kita…”

Panjang lebar si Jack menjelaskan, layaknya seorang ustad saja. Tapi Linda begitu erat menyimak kata demi kata, seakan-akan obat yang menguatkan jiwanya untuk menyongsong masa depan, dan keluar dari kemelut kegelapan.

Jack memang lain. Ketika bertahun-tahun belajar agama di pesantren, lalu meneruskan studi ke timur tengah, ke eropa, dan bahkan melanglang ke Afrika untuk belajar Tasawuf, Jack kembali ke Indonesia bukannya mendirikan pesantren atau mengajar di perguruan tinggi. Tapi malah menyeruak dibalik semak-semak belukar Jakarta, menghampiri mereka yang dipinggirkan oleh peradaban, yang disingkirkan oleh mereka yang merasa suci, dan diabaikan oleh para ulama dan kyai, ustad dan agamawan. Remang-remang Jakarta, remang-remang rel kereta, remang-remang mereka yang berusan dengan peradilan, dan remang-remang yang memainkan uang rakyat untuk dikorupsi. Jack mendekati mereka untuk kembali ke jalan Ilahi, dengan caranya sendiri.

Hamper para artis dangdut, artis kade, artis televise menganal Jack sebagai sosok yang sedikit controversial, tetapi sudah banyak diantara mereka yang kembali menemukan jati dirinya.

Linda juga again dari sosok yang hadir di tengah-tengah Lumpur Jakarta. Ia datag dari sumatera, mengadu nasib di Jakarta lalu terjerumus oleh kejamnya buaya kota. Nasibnya terpuruk menjadi penghibur, dan segudang masa lau yang kelam. Linda ingin kembali, tetapi selalu dipandang sinis oleh para ustad dan orang-orang dikampungnya. Linda adalah kotoran dan sampah, dan itulah yang membuat Linda menjerit memprotes Tuhan setiap hari. Untung ia bertemu Jack, sosok yang terkadang mewakili jiwanya dan jeritan hatinya. Untung pula dengan segala kesiapan mentalnya, Jack yang sesungguhnya adalah seorang kyai dikampungnya, tidak pernah larut dalam remang-remang itu, alaupun secari fisik ia disana. Tetapi hatinya berada di Arasy Ilahi. Ramai dengan gemercak dentam musik, tatpi seluruh bunyi di hati Jack adalah dzikullah, ia pun bersunyi-sunyi dalam dzikirnya.

“Mas Jack, apa yang saya lakukan besok?”

“Kamu nggak usah bertobat secara drastic seperti itu, kalau kamu belum siap.”

“saya sudah yakin, Mas!”

“Baiklah. Malam ini kamu sudah jadi bayi baru, dan jangan lagi kamu tengok masa lalu. Lihatlah kedepan, yang didepan adalah matahari harapan dan senyuman. Allah ada di masa depan.”

Dua orang itu pergi dari tempat hiburan itu, Linda dengan mata sembabnya. Sementara Jack, menuntunnya ke mobil. Malam semakin larut ketika mobil menderu, dan hilang ditelan kegelapan. Jack, masih tertinggal ditempat itu, sampai demuanya bubar. Jack masih sendiri.

“Belum pulang, Susi?”

“Yah, nunggu subuh sekalian.”

Dan Susi adalah waitres yang telah lama kerja disitu. Ia dilarang kembali oleh Jack, tetapi tetap menjadi waitres dan pelayan restoran. Namun dengan jiwa yang sunyi bersama Allah.

Jack dan Susi, dua hamba Allah iltu seperti mutiara di tengah Lumpur Jakarta…

M. Luqman Hakim.


Aksi

Information

One response

30 11 2010
edo

mencerahkan jiwa ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: