POSISI ANDA DI DEPAN ALLAH (Kedai Sufi Kang Luqman)

30 01 2010

“Kang…, bias nggak kita mengetahui, kedudukan kita saat ini di depan Allah?” Tanya Dulkamdi kepada Kang Saleh.

Kang Saleh hanya menghela nafas panjang. Ia pandangi sahabatnya itu lama sekali, sampai Dulkamdi kelihatan tidak enak, khawatir menyinggung Kang Saleh, atau jangan-jangan pertanyaan itu sudah masuk kedaerah rawan.

Dan, cess. Airmata Kang Saleh tumpah di pipinya.

Dulkamdi semakin merasakan tidak enak dibenaknya. Rasanya ingin segera pergi dari kedai itu. Tapi Pardi tiba-tiba dating, tanpa basa-basi meminta sisa kopi Dulkamdi yang tinggal seperempat cangkir.

“Dul. Kita sudah lama tidak bersenang-senang. Kalau sesekali kita menuruti hawa nafsu kita, apakah nggak boleh Dul, ya?”

Dulkamdi justru terdiam. Ia injak telapak kaki Pardi, memberi tanda, bahwa suasananya kurang pas bicara seperti itu. Dan Pardi jadi paham, ketika memandang Kang Saleh, yang matanya masih basah.

Dua sahabat itu jadi clingukan.

Tiba-tiba suara Kang Saleh terasa parau, usai Pardi bicara seperti itu.

“Jika anda mulai berorientasi serba duniawi, memburu duniawi, itu tandanya Allah sedang menghina anda. Jika anda berorientasi dalam ubudiah, itu tandanya Allah sedang menolong anda. Jika anda sedang sibuk dengan urusan sesame manusia, sampai lupa dengan Allah, itu tandanya Allah sedang berpaling dari diri Anda. Jika anda dijauhkan dari rintangan-rintangan menuju kepada Allah, sesungguhnya Allah sedang mendidik budi pekerti kehambaan anda. Jika anda bergairah dalam Munajad kepadaNya, itu tandanya Allah sedang mendekati Anda. Jika anda Ridha atas ketentuanNya, dan Ridha bersamaNya, itu tandanya Allah Ridha kepada diri anda… dan…” Suara Kang Saleh terhenti berganti dengan tangis yang menderu-deru.

“Mari … mari … Kita kita kirim surat Al-Fatihah kepada Syaikh Zaruq, pensyarah al-Hikam yang memunculkan mutiara hikmah tadi… al-Fatihah…” Kata Kang Saleh sambil sesenggukkan.

Lalu seisi kedai itu membaca surat al-Fatihah sambil sesenggukan pula.

Dulkamdi memandang bengong kepada Kang Saleh. Kepalanya seperti burung onta, manggut-manggut belaka. Ia benar-benar menghayati ungkapan Kang Saleh yang sangat filosaofis itu. Diam-diam ia baru paham, itulah jawaban Kang Saleh atas pertanyaan diatas, dimana posisi seorang hamba dihadapan Allah.

“Nah Di, kamu paham kan?”

“Maksudmu Dul?”

“Lha, kamu kalau mengajak kita untuk menuruti hawa nafsu, syahwat dan maksiat, itu pertanda posisi kita dihadapan Allah sedang terhina, atau Allah menghina kita, lalu kita ditakdirkan bermaksiat, mengumbar kesenangan nafsu….”

Pardi hanya bias menghela nafasnya….

M. Luqman Hakim.


Aksi

Information

9 responses

1 02 2010
dildaar80

salam kenal..

2 02 2010
rizki pratama

Salam kenal juga…

16 04 2011
suci

tak ada karangan yang muncul laghy???

3 11 2011
agus hari

bagaimana caranya mendapatkanbuku kedai sufi kang luqman?
sudah berapa kali terbit ?

8 11 2011
rizki pratama

Silahkan hubungi Redaksi Majalah Cahaya Sufi

ALAMAT REDAKSI: Jl. Bekasi Timur IV No.15 Jatinegara, Jakarta Timur Telp. 021-8561695

12 03 2013
Abdul Azis

Kang luqman saya ingin jadi pelanggan majalah cahaya sufi sedang ditempat domisili saya di kapuas atau kota palangkaraya, tidak tahu kemana saya harus beli mohon infonya dan saya ucapkan terimakasih

11 05 2013
rizki pratama

http://www.sufinews.com nanti ada info untuk berlangganan.

19 03 2014
Taufiq

jika qt takmampu menegur org yg berbuat maksiat di seblah tempat ibadah, apakah qt harus menghindari tempat ibadah itu?

2 09 2014
rizki pratama

di doain aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: