Syiar Jubah (Jack & Sufi)

30 01 2010

Tiba-tiba pintu rumah Jack digedor keras-keras. Lalu muncul suara teriakan yang menggaduhkan pinggiran kota. “Bapak-bapak! Mari kita berjama’ah shalat di masjid, kita satu dalam La ilaha illallah…! Mari Pak, mari!” Demikian ucapan yang muncul dari serombongan orang berjubah putih dengan janggutnya yang dilebatkan.

“Bapak-bapak ini siapa?” kata Jack pura-pra tidak mengenal mereka.

“Kami-kami adalah orang yang berjalan dan berhijrah kepada Allah Ta’ala, sama dengan bapak, sama dengan umat Islam lainnya…,” jawab jubar mereka.

“Maaf, Anda silakan shalat sendiri berjamaah disana. Saya lagi mengantuk Pak…,” jawab jubir mereka.

“Mengantuk itu pasti setan, Pak!”

“Ya, tapi kali ini bukan setan. Tapi saya ngantuk melihat setan di depan saya…”

Orang-orang itu gelagapan mendengar ucapan Jack yang cukup gila.

“Kta ini mau berdakwah, Pak…!”

“Bagus!” kata Jack.

“Karena itu bapak harus saya ajak ke jalan yang benar…”

“Bagus!”

“Bapak akan tahu Islam yang benar…”

“Bagus!”

“Kenapa bagus melulu, Pak?”

“Karena baru kali ini saya melihat orang mendakwahi orang Islam dengan cara seperti Anda. Anda ini merasa paling Islami, paling meniru Nabi, sehingga Anda berjubah dan berjanggut? Apakah Anda tahu dasarnya Islam itu apa?”

“Jelas dong, syahadat Pak…”

“Ada berapa jumlah huruf di dalam syahadat?”

Mereka gelagapan lagi. Lalu pamit pulang dengan wajah kecewa.

“Ehh…Mas. Besok ke sini lagi ya? Saya ada sedikit rezeki, buat lebaran…”

Esoknya rombongan itu dating ke tempat Jack lagi dengan jumlah lebih besar. Jack menyambutnya dengan senyum yang lebar dan dada yang jembar. Mereka tempak kikuk menghadapi Jack yang tetap gondrong dan nyentrik, dengan celana Jean dan kaos oblong…

“Mari-mari… masuk! Saya akan ikut apa yang Anda lakukan selama ini, dan saya sudah tahu sampai seluk beluknya. Saya ingin ikut kalian…”

Mereka tampak sumringah.

“Tapi dengan satu syarat saja…”

“Sebentar Anda saya ajak berdzikir bersama disini, dan dilanjutkan dengn diskusi…”

“Wah itu makanan kita, Pak?”

Acara dzikir dan diskusi berjalan seru. Toh, akhirnya bias diduga, di antara mereka ada yang kontra dengan Jack, dan lainnya ikut pandangan Jack. Apalagi kalau bukan soal formalitas dan identitas Islam yang mereka pertahakan.

“Saudara-saudara yang tidak setuju dengan saya silakan pulang, dan ini sekedar oleh-oleh. Yang pro dengan pandangan saya silakan disini sejenak…”

“Begini Pak, saya harus ikut kembali ke masjid Pak. Bukan apa-apa, saya ingin ajak mereka yang tersisa ke sini semua… Mereka, karena kadangkalan agama, menjadikan gerakan agama masih jadi ekslusif seperti itu. Wah…wah…wah…”

“Terserah Anda…,” kata Jack.

M. Luqman Hakim.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: